Suatu wilayah atau tempat tujuan untuk mudah dikenali dan dikenang kembali oleh masyarakat luas, maka selalu ada didalamnya ditempatkan suatu bangunan atau suatu benda visual yang lebih menonjol dan mempunyai ciri kekhasan tersendiri. Dengan menyebut nama bangunan atau benda tersebut, orang dengan cepat mengingat kembali, bahkan mengetahui atau memahami akan keberadaan lokasi atau tempat kota tersebut berada.  Ketika disebut ‘monas’, orang akan mempresepsikan keberadaan kota Jakarta, demikian pula disebutkan “Menara Eifel” ataupun  “Kakbah”, orang akan dengan mudah mengetahui keberadaan kedua bangunan tersebut berada di kota mana.

Uraian di atas lebih sering disebut sebagai ‘landmark”. Menurut Sirait, 2011 disebutkan bahwa landmark  merupakan suatu elemen penting dari suatu daerah atau kawasan karena membantu orang mengenali suatu tempat untuk mengorientasikan diri di dalam tempat tersebut dan membantu orang mengenali suatu daerah atau kawasan tersebut. Dengan kata lain, landmark  merupakan ciri khas suatu kota atau kawasan yang dapat dijadikan sebagai identitas dari tempat tersebut.

 

Agar Kebun Raya Banua keberadaannya dapat mudah dikenal dan dikenang kembali oleh siapa saja yang berkunjung atau yang ingin berkunjung ke dalamnya. Icon dijadikan sebagai landmark, tak sekedar berupa bangunan ornamen, tapi fisiknya juga mempunyai nilai filosofi yang tinggi dan histori yang mendalam terkait maksud dan tujuan pembangunan icon atau landmark kebun raya itu sendiri.

Salah satu ciri khas yang dibangun dan ditampilkan sebagai landmark kebun raya ini adalah bangunan “Plaza Green Borneo”. Bangunan ini ditengahnya terdapat menara dengan tiang-tiang penyangga berupa pilar tegak dan sebuah aksen berbentuk angka 7 (tujuh), dimana di atasnya terdapat  ornamen berbentuk batu berwarna hijau, yang terbuat dari bahan kaca.

Plaza Green Borneo posisinya tepat berada di titik tengah kawasan Kebun Raya Banua, yaitu berada di bagian ujung dalam jalan utama atau boulevard.

Ada sedikit pertanyaan, apa kaitannya “Green Borneo” yang digambarkan dalam sebuah ornamen berbentuk batu besar dan berwarna hijau, apabila kemudian dihubungkan dengan keberadaan kebun raya sebagai wahana konservasi tumbuhan??

Green Borneo merupakan salah satu sebutan jenis batuan khas Kalimantan, sering dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan batu yang sangat menarik dan bernilai tinggi, seperti Red Borneo, dan jenis-jenis batuan yang lainnya. Sebagaimana diketahui beberapa puluh tahun yang lalu,  kawasan Kebun Raya Banua ini merupakan salah satu lokasi yang pernah dijadikan area penambangan tradisional berbagai jenis batuan seperti itu, atau lebih dikenal dengan sebutan “pendulangan intan”. Namun kini yang tertinggal, hanya hamparan lahan marginal, dicirikan dari tekstur tanah dan dominasi semak belukar dan disisipi jenis Acacia mangium di dalamnya.

Keberadaan lokasi bekas pertambangan tradisional ini, kemudian dijadikan dan ditetapkan sebagai  wahana konservasi tumbuhan secara ex situ, yaitu “Kebun Raya Banua”. Tepatnya dimulai pembangunannya pada tahun 2013. Boleh dikatakan, kegiatan koleksi tumbuhan yang dilaksanakan di lokasi ini sebagai bentuk nyata dari kegiatan pemulihan lahan atau reklamasi di lahan bekas lokasi pertambangan tradisional.

Cukup berat melakukan rehabilitasi lahan di areal yang kandungan organiknya sangat rendah alias marginal. Tekstur tanah yang yang sangat padat dan keras, menyulitkan dalam hal pengolahan tanah. Namun demikian inilah suatu tantangan yang harus disikapi, dihadapi, dan disyukuri untuk bahan pembelajaran dan upaya pemulihan lahan yang berkelanjutan. Ke depannya diharapkan upaya rehabilitasi lahan dan sekaligus konservasi tumbuhan ini akan mewujudkan suatu kawasan hijau yang kaya akan keanekaragaman hayati tumbuhan, khususnya tumbuhan dari Pulau Kalimantan. Semangat dalam konservasi tumbuhan di kebun raya ini lalu disimbolkan dalam sebutan “Green Borneo”, Kalimantan Hijau kembali.

Selain histori dan harapan di atas, Plaza “Green Borneo’ yang menjadi landmark Kebun Raya Banua saat ini juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tempat rekreasi dan tempat berswafoto oleh sebagian masyarakat, baik masyarakat sekitar maupun masyarakat dari luar kawasan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat banyaknya orang yang datang ke lokasi itu pada akhir pekan, baik diantara mereka yang hanya duduk-duduk di bangku taman yang ada di dalamnya sambil menikmati keindahan maupun berswafoto di tempat tersebut.

Peran landmark  di sini dapat sebagai sarana promosi, ketika foto yang diambil dan diabadikan dari tempat tersebut diunggah ke situs jejaring sosial oleh orang yang melakukan pengambilan gambar atau pemotretan di lokasi itu. Kesan positif akan timbul, ketika orang lain melihat foto yang diunggahnya tersebut mempunyai daya tarik.

Anda ingin menjadi salah satu orang yang akan ikut memperkenalkan landmark ini, silahkan kunjungi Kebun Raya Banua dan share hasil jepretan di media sosial yang Anda miliki. Terima kasih.

Oleh: Agung Sriyono