Dibangunnya kebun raya di suatu daerah,  diharapkan dapat melestarikan berbagai keanekaragaman hayati tumbuhan. Bukan hanya itu saja, ada fungsi lain yang ada didalamnya yaitu fungsi penelitian, pendidikan lingkungan, jasa lingkungan, dan rekreasi edukatif. Kelima fungsi kebun raya ini akan sangat terasa manfaat, tatkala tumbuhan didalamnya sudah mulai rindang dan terkumpul banyak koleksi tumbuhan beraneka ragam. Inilah suatu tindakan yang nyata, sebagaimana pemerintah provinsi Kalimantan Selatan turut handil dalam mengatasi degradasi keanekaragaman hayati tumbuhan. Pembangunan kebun raya merupakan salah satu upaya yang sedang di di tengah alih fungsi lahan, khususnya hutan yang terus terdegradasi oleh berbagai kegiatan pembangunan dan kepentingan ekonomi lainnya.

Kebun Raya Banua, demikian nama kebun raya yang dibangun Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang mendapat dukungan nyata, khususnya dari Kementerian PUPR dan LIPI dalam hal penyediaan infrastruktur dan penguatan kelembagaannya. Saat ini Kebun Raya Banua terus berupaya mengembangkan diri dan memperkaya koleksi tumbuhan dari hasil eksplorasi dan sumbangan dari berbagai pihak. Dengan luasan lebih kurang 100 hektar, merupakan suatu luasan yang lumayan menyita enegi, biaya, dan waktu untuk mengarapnya.

Dibangun di areal bekas pendulangan intan, kondisi lahannya tergolong sangat miskin hara. Tumbuhan eksisting didominasi jenis semak belukar, tanpa pepohonan yang menjulang tinggi. Inilah sebuah tantangan yang dihadapi Kebun Raya Banua, untuk berupaya dan berikhtiar menanam, memelihara, dan menjaganya agar menjadi pepohonan yang rindang dan nyaman dipandang mata. Dan alhamdulillah, setelah 6 tahun berjalan koleksi tumbuhan di sini semakin banyak dan terlihat tajuk-tajuk yang berbentuk aneka macam.

Dibalik dari kegiatan konservasi tumbuhan tak terasa dan diduga, berbagai satwa mulai terlihat kehadirannya di kebun ini. Bukan hanya cacing yang bersembunyi di dalam tanah, jenis lainpun tampak beraneka rupa, seperti kelompok siput, katak, serangga, kupu-kupu, dan aneka burung. Kehadiran mereka ini  mungkin tidak terlepas dari mulai terbentuknya ekosistem baru di dalam kebun raya ini. Siklus makanan di lingkungan baru tersebut, terjadi secara alamiah.

Ada beberapa pengamatan sederhana di kebun raya banua, terkait kehadiran berbagai satwa ini, khususnya pada kelompok burung. Di gedung konservatorium yang baru selesai terbangun setahun yang lalu, dan saat ini di dalamnya diisi koleksi berbagai jenis tumbuhan kayu-kayuan dan buah-buah langka. Suara burung-burung terkadang ramai bersautan di dalam gedung ini, sambil terbang kesana-kemari. Suasana di dalam gedung inipun seakan menjadi lebih dinamis, tak sekedar hanya pepaduan koleksi tumbuhan yang tersusun. Burung-burungpun menghibur asyik, bahkan ada beberapa diantaranya membuat sarang. Baginya keberadaan gedung konservatorium, yang didalamnya diisi koleksi berbagai koleksi tumbuhan telah menjadi rumah baru bagi mereka.

Ada sedikit pertanyaan, mengapa mereka menjadikan gedung konservatorium ini menjadi tempat bermain dan persinggahan barunya. Apakah lingkungan di luar yang biasa mereka jadikan tempat bermain telah terusik, seperti kebakaran lahan yang sempat berlangsung dalam beberapa bulan terakhir ini? Wallahu’alam. Semoga kehadiran burung-burung di gedung konservatorium, dan utamanya di kebun raya ini memberikan manfaat dan menjadi ikhtibar bagi kita sekalian.

Oleh: Agung Sriyono