Tidak semua pengunjung di kebun raya dapat melihat dan berkesempatan mengamati koleksi tumbuhan dari dekat, dikarenakan keterbatasan waktu. Padahal pada kesempatan tersebut, pengunjung sangat berharap sekali untuk dapat mengenali koleksi tumbuhan lebih dekat. Kekecewaan sering muncul di sebagian para pengunjung, apabila hasratnya belum terpenuhi.

Kebun Raya Banua dengan luas sekitar 100 hektar yang terbagi dalam 12 zona koleksi tumbuhan, memang membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra untuk dapat mengenali koleksi tumbuhan di dalamnya. Belum lagi jarak koleksi tumbuhan satu dengan yang lainnya berjauhan dan tersebar. Kondisi seperti ini sering menjadikan si pengunjung kecewa tidak dapat maksimal untuk mengetahui lebih dekat, karena terbatasi oleh waktu kunjungan atau harus segera bergabung  yang mereka miliki.

Ingin mengenang kembali tumbuhan langka yang pernah dijumpai atau ingin mengenal lebih dekat dengan koleksi tumbuhan yang mulai langka, sering menjadikan pengunjung betah di dalam kebun raya. Namun ketersediaan waktu sering menjadi alasan. Inilah yang menjadi bahan pemikiran kami, yaitu bagaimana Kebun Raya Banua ini dapat mengobati kekecawaan jika menghadapi hal yang serupa dari pengunjung yang lain

Membangun “forest in building” sebagai salah satu jawaban! “Hutan di dalam Gedung”. Itulah kira-kira yang diwujudkan untuk mempermudah pengunjung yang punya keinginan untuk mengenal lebih banyak dan lebih dekat terhadap koleksi tumbuhan.

Forest in building, hanyalah sebutan dan merupakan wadah koleksi tumbuhan yang dikumpulkan dalam satu ruang, dalam hal ini berupa gedung konservatorium. Koleksi tumbuhannya dipilih dan dipilah, menurut kategori langka, cenderung langka, atau yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Kebun Raya Banua memiliki dua bangunan yang diarahkan untuk konsep “forest in building”, yaitu satu bangunan dikhususkan untuk koleksi tumbuhan kayu dan buah langka, dan bangunan kedua untuk koleksi tumbuhan obat, aromatik, dan atsiri. Khusus untuk gedung konservatorium yang mengkoleksi tumbuhan kayu dan tumbuhan buah, saat ini sudah cukup banyak tumbuhan yang terkoleksi di dalamnya. Beberapa koleksi tumbuhan kayu, diantaranya: Ulin, Meranti, Belangiran, Gmelina, Kapur, Gaharu, Randu, ataupun Ficus.

Sementara dari koleksi tumbuhan buah, juga lumayan banyak jumlahnya. Beberapa koleksi tumbuhan buah, selain berasal dari Kalimantan, juga ada tumbuhan buah yang berasal dari luar Kalimantan. Koleksi dari luar Kalimantan, diantaranya: Kepel, Matoa, ataupun Duwet. Berikut koleksi tumbuhan buah yang berasal dari Kalimantan, diantaranya: Blangkasua, Buku-buku, Durian, Gitaan, Jentik-jentik, Kalangkala, Kasturi, Kepayang, Kuranji, Maritam, Mundar, Landur, Pampakin, Rambai, ataupun Tandui

Adanya gedung konservatorium yang dijadikan “Forest in Building” ini, akan mempermudah siapa saja yang ingin mengetahui berbagai jenis tumbuhan kayu dan tumbuhan buah yang ada di Kebun Raya Banua. Koleksi tumbuhan yang ditempatkan di ruang ini sifatnya sementara, koleksi yang ukurannya sudah cukup besar dan perlu direlokasi, maka pada gilirannya individu koleksi tumbuhan tersebut harus diganti dengan jenis tumbuhan yang sama. Dengan perlakuan demikian, insya’ Allah pengunjung akan senantiasa dapat melihat dan mengenal berbagai jenis koleksi tumbuhan yang ada.

Forest in building menjadi wadah atau wahana edukasi tentang tumbuhan yang simpel , di tengah keterbatasan waktu dan tenaga yang kita punyai. Semoga forest ini building ini memberi manfaat bagi kita sekalian.

Oleh: Agung Sriyono