Tanaman berumbi merah ini tentu tidak asing lagi bagi masyarakat Kalimantan. Hal ini dikarenakan tanaman bawang dayak ini biasanya digunakan sebagai bahan obat-obatan. Tanaman ini mempunyai bahasa latin Eleutherine bulbosa Merr., sedangkan nama daerah lain dari bawang dayak ini adalah bawang sabrang, bawang tiwai, bawang berlian, atau bawang hantu.
Tanaman bawang dayak merupakan tanaman monokotil dengan bunga berwarna putih yang akan mekar sekitar pukul 17.30 sore dan umbinya berwarna merah. Umbi dari tanaman ini berada di dalam tanah. Tanaman ini dapat ditemukan di ketinggian 600 – 1500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain umbi dan bunga, bagian penting lain dari tanaman ini yaitu daun. Warna daun yaitu hijau, tunggal, berbentuk pita dengan pertulangannya sejajar, serta tepi daunnya licin. Tanaman ini apabila telah tua maka daunnya akan menjadi rebah. Untuk membudidayakannya sangat mudah, yaitu hanya dengan menanam umbi bawang dayak yang telah dipotong 1/3 atasnya dan memotong akarnya hingga tersisa kurang lebih 2 cm di media tanam. Pemanenan dapat dilakukan setelah 4 bulan setelah tanam.
Setiap bagian dari tanaman ini mempunyai khasiat. Hal ini dikarenakan tanaman ini memiliki kandungan zat kimia yang bagus untuk kesehatan. Senyawa luteonin yang dikandung tanaman ini dapat mencegah inflamasi, eleuterinosida A yang dikandungnya dapat menjadi obat antidiabetes, dihidro-eleutherinol untuk obat antikanker, fenol dan flavonoid digunakan sebagai antimikroba, isoeleuterine dan isoeleuterol sebagai antivirus, serta eleuterol dan eleuterin dapat digunakan sebagai antihipertensi. Tanaman ini juga dipercaya dapat mengobati kista ovarium, mencegah stroke serta mengurangi sakit perut setelah melahirkan.
Cara mengkonsumsi umbi tanaman ini yaitu dengan cara menyeduh 4,2 g perhari umbi bawang dayak yang telah dikeringkan dalam segelas air dan kemudian mengkonsumsinya dua kali sehari. Konsumsi umbi bawang dayak ini dianjurkan setelah makan karena kandungan asam yang dikandungnya dapat menyebabkan asam lambung meningkat.
Tidak hanya dari segi kesehatan manusia, tanaman ini juga dapat mengendalikan penyebaran penyakit tular tanah dan mengendalikan perkembangan penyakit pada tanaman, misalnya penyakit layu cendawan dan bakteri pada tanaman bawang merah ataupun tomat. Selain itu, pada bagian bunga, juga terdapat cendawan endofit yang dapat menghasilkan senyawa aktif bersifat antimikroba yang dapat mengendalikan patogen tular tanah tanaman dengan bentuk kompetisi ruang, parasitisme, dan antibiotis.
Penelitian terkini juga ditemukan bahwa ekstraksi dari cendawan endofit yang ditemukan di bunga bawang dayak tersebut juga dapat menghambat perkembangan patogen Fusarium spp., yaitu patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman bawang merah. Daya hambatnya dapat mencapai lebih dari 70 % yang berarti daya hambatnya tergolong tinggi.