KEBUN RAYA BANUA

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan

Kebun Raya Banua Kedatangan Si Ulat Gajah

Di saat pergantian musim kemarau menuju ke musim hujan berlangsung (pertengahan Juni hingga September), Kebun Raya Banua kedatangan makhluk unik dalam wujud ulat yang mencari makan di beberapa tanaman koleksi untuk menjalani proses metamorfosisnya. Ulat ini biasa dikenal dengan sebutan Ulat Keket, akan tetapi kali ini penulis memilih memakai sematan Ulat Gajah untuk mengulasnya lebih lanjut.

            Penulis cenderung lebih suka memakai sebutan Ulat Gajah, karena ulat ini merupakan wujud awal dari si Kupu-kupu Gajah (Attacus atlas) dalam melalui fase metamorfosis sempurnanya (holometabola). Seperti yang kita ketahui bahwa sebuah metamorfosis sempurna pada serangga diawali dengan fase telur – larva (ulat) – pupa (kepompong) – imago (serangga dewasa). Pemberian nama Kupu-kupu Gajah sendiri sebenarnya kurang tepat untuk makhluk ini, karena Attacus atlas adalah ngengat dan bukan kupu-kupu. Secara taksonomis keduanya berbeda, tapi ah sudahlah untuk bahasan kali kita tidak memusingkan hal tersebut!

            Ulat Gajah memiliki ukuran yang relatif besar untuk ukuran ulat, berdasarkan pengamatan ulat ini memiliki panjang badan ± 6-9 cm dan diameter badan ± 2-2,5 cm (Gambar 1). Ukuran Ulat Gajah wajar terlihat besar dibandingkan ulat pada umumnya, karena Attacus atlas merupakan salah satu ngengat yang memiliki ukuran besar di dunia dengan bentang sayap ± 20-25 cm (Gambar 2).  Di Kebun Raya Banua diketahui menghinggapi pohon Alpukat (Persea americana) dan Dadap (Erythrina sp.). Fase larva (Ulat Gajah) ini sekitar 48 – 63 hari dengan 6 macam tahapan (instar). Secara keseluruhan tingkat kerusakan yang disebabkan oleh ulat yang masuk dalam famili Saturniidae ini terhadap tanaman koleksi di Kebun Raya Banua masih dalam kategori rendah, karena semakin menuju akhir fase larva si ulat (ulat semakin membesar), justru kebutuhan makannya akan daun semakin berkurang. Gejala yang timbul saat pemelihara tanaman Kebun Raya Banua melihat Ulat Gajah berada di tangkai daun tanaman koleksi yakni daun dapat habis dalam semalam dan yang tersisa hanya tulang daunnya saja.  

            Secara mekanis, ulat dapat dipungut dan dimusnahkan untuk menghilangkan serangan pada tanaman. Melakukan pengecekan bagian bawah daun yang biasa menjadi tempat Attacus atlas untuk meletakkan telurnya. Secara kimiawi pemusnahan dan pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian insktisida berbahan aktif imidakloprid, klorpirifos, lamda sihalotrin dan klorantanitripol, lamda sihalotrin dan tiametoksam, emamektin benzoat atau klorantraniliprol. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan membalikkan tanah di sekitar tanaman agar terkena sinar matahari untuk membunuh ulat yang bersembunyi di tanah.

            Sebelum melakukan pemusnahan Ulat Gajah apabila dianggap sebagai hama, walaupun serangannya masih dalam kategori rendah, ada baiknya kita mengetahui sisi menguntungkan dari keberadaan Ulat Gajah ini. Di balik wujudnya yang sangar, berukuran besar dan memiliki semacam bulu-bulu kaku di sepanjang tubuhnya, ternyata Ulat Gajah memiliki potensi bernilai ekonomis yang dapat dikembangkan. Ya, Ulat Gajah dari ngengat Attacus atlas ini memiliki potensi sebagai penghasil serat sutra yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kain sutra. Serat sutra yang dihasilkannya mirip dengan yang dihasilkan oleh ulat sutra yang kita kenal Bombyx mori. Di Desa Karangtengah, Kabupaten Bantul bahkan telah dikembangkan lahan untuk budidaya jenis sutra liar Attacus atlas dengan menggunakan media pohon  Jambu mete (Anacardium occidentale), Mahoni (Swietenia mahagoni), Kedondong (Spondias dulcis), Alpukat (Persea americana) dan beberapa murbei (Morus sp.). Hasil kepompong dijadikan benang dan kerajinan. Hasil produk tersebut bahkan telah diekspor ke Jepang. Menarik bukan? (Hfz)


Kembali Ke Halaman Sebelumnya